Kamis, 28 Februari 2013

Rokok dan Kemauan Kita untuk Sehat

Masalah rokok seakan tidak ada habisnya. Bagaimana tidak? Di saat berbagai pihak gencar melakukan kampanye anti rokok/ tembakau, merokok tetap menjadi hal yang lumrah oleh sebagian dari kita untuk dilakukan di tempat-tempat umum. Makin gencar kita memaparkan bahayanya, makin mengepul pula asap rokok di ruang-ruang publik. Tak sedikit dari kita yang menghabiskan hampir setengah dari penghasil Singkat kata, wabah tapi tetap dibiarkan!

Saya teringat kejadian yang mengernyitkan dahi ketika pernah menaiki sebuah kendaraan umum. Penumpangnya penuh sesak. Sampai-sampai, di barisan depan samping sopir, ada 3 penumpang. Sepasang suami istri dan seorang balita mereka, yang dipangku sang ibu. Di barisan kursi saya sendiri ada empat orang. Apa yang bikin saya terheran-heran selanjutnya adalah bukan sesaknya penumpang tetapi ketika tiga puluh menit setelah mobil berangkat, ayah dari si balita tadi merokok. Anda yang mengerti bahaya rokok harusnya heran jika ikut melihat kejadian ini. Tak sadarkah sang ayah telah menjadikan anaknya perokok pasif? Tidak merasa puaskah cukup dia sendiri yang merusak jasmaninya? Istrinya pun (bukan terkesan tapi memang) membiarkan tingkah "menggemaskan" suaminya.

sumber gambar di sini

Aris Merdeka Sirait, Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA), dalam wawancaranya dengan Majalah Hidayatullah edisi Desember 2012 menginformasikan bahwa pada Tahun 2012 Komnas PA menangani 21 kasus bayi merokok berumur 11 bulan. Ditambahkannya, orangtua para balita ini dengan sengaja menyundut-nyundutkan rokok ke mulut mereka sehingga para balita menjadi bisa merokok. Dan ketika seorang balita ingin merokok dan tidak dibelikan orangtuanya, perilaku mereka lebih tidak terkontrol, seperti membentur-benturkan kepalanya ke tembok. Mencengangkan bukan?

Logika
Dalam wawancara itu, Aris juga memberikan logika yang sangat masuk akal tentang rokok: 
"Banyak orang dari kelompok beragama terjebak pada masalah halal-haram ketika bicara rokok. Sementara kelompok ekonomi bicara pada aspek kesejahteraan petani rokok. Kita itu minim data tapi mau bicara banyak. Rokok itu permasalahan utamanya adalah kesehatan. Apa pun alasannya rokok itu merusak kesehatan adalah tidak terbantahkan. Kalau kita sayang diri kita sebagai anugerah dan titipan Tuhan, lalu kenapa kita rusak. Kan, logikanya begitu?"

"Petani selama ini dibodohi. Tembakau mereka tidak laku, kalaupun laku harganya juga sangat murah. Petani tembakau di Indonesia ini dibayar dengan upah yang sangat rendah. Kita ini dibodohi oleh industri rokok bukan pada aspek kesehatan saja tapi juga masalah upah petani dan cukai rokok"

"Tidak ada satu pun hasil devisa negara dari rokok itu dibayar oleh produsen rokok. Mau buktinya? Dari setiap harga Rp. 10.000 per bungkus, harga rokok tersebut sebenarnya Rp. 8.000. Yang Rp. 2.000 itu cukai atau pajak rokok itu sendiri. Jadi 57 triliun devisa  negara dari keuntungan rokok itu sebenarnya bukan dari produsen rokok. Tapi semua dibayar oleh rakyat Indonesia sendiri. Itulah bodohnya kita."

***
Berbicara rokok memang tak ada habisnya. Sampai berbusa-busa pun kita berkampanye anti rokok, toh iklan rokok tetap dilegalkan. Kemauan dari diri sendiri untuk sadar akan bahaya rokok setidaknya menjadi modal awal dalam memeranginya. Cara tahu bahaya rokok pun tak perlu tentunya saya beberkan di sini. Kuncinya adalah kemauan kita untuk berubah. Setelah itu tularkan spirit hidup sehat ke orang terdekat sampai lingkungan tempat kita tinggal dan kerja.

Senin, 25 Februari 2013

Rabu, 30 Januari 2013

Memory Trainer - Buat Kamu yang Pelupa

sumber gambar di sini
















Anda pelupa dan kebetulan punya ponsel android? Jika iya, maka tak ada salahnya mengunduh aplikasi Memory Trainer ini. Sebagai orang pelupa, saya menjadikan aplikasi ini sesuatu yang wajib di ponsel. Meski baru hitungan hari saya mengunduhnya tapi saya tertarik untuk terus menggunakan. Berbagai alat latih dibenamkan di aplikasi ini untuk melatih kemampuan mengingat kita.

Pertama, setelah membuka aplikasi ini kita akan diberikan pilihan sesi tugas dimana sesi sebelumnya  lebih mudah tingkat kesulitannya dibanding sesi berikutnya. Dengan runutan seperti itu maka otak kita harusnya tidak kaget dengan latihan-latihan yang diberikan aplikasi ini dan tentunya hal ini memudahkan bukan? 


Total ada 6 jenis latihan, TileFlip, Numberz, Sequencer, GridGrind, To-DoKu, dan N-Back, dan tentunya masing-masing latihan memiliki fungsi melatih yang berbeda. TileFlip melatih untuk mengingat gambar dimana kita harus memilih gambar mana yang tidak muncul pada tampilan sebelumnya. 

Numberz melatih untuk mengingat angka, dimana kita harus mengingat angka telepon yang ditampilkan sebelumnya. Latihan ini mungkin cukup bagus untuk mengingat nomor-nomor telepon yang penting di kontak ponsel kita.
Sequencer melatih untuk mengingat warna dan bentuk geometri, dimana kita harus mengingat warna atau bentuk geometri yang ditampilkan sebelumnya. Latihan ini lebih sulit dibanding latihan yang di atas karena warna dan bentuk geometri digabungkan dalam satu kotak sementara kita hanya perlu mengingat salah satu urutan warna atau bentuk geometri.

GridGrind sebenarnya hampir sama dengan latihan Sequencer hanya saja tingkat kesulitannya kebih tinggi lagi dimana kita diharuskan untuk mengingat letak kombinasi-kombinasi warna dan bentuk geometri yang diberikan. 

To-DoKu melatih untuk mengingat kalimat atau perintah, dimana kita harus mengingat perintah yang ditampilkan sebelumnya karena akan ada pertanyaan yang menyangkut perintah-perintah tersebut. Latihan ini bagus untuk melatih ingatan tentang perintah yang banyak dalam rentang waktu yang berdekatan.

N-Back melatih untuk mengingat urutan, dimana kita dihadapkan pada sebuah urutan huruf. Ketika syaratnya loncat 1 huruf maka jika ada huruf yang sama setelah dilangkahi satu huruf kita harus memilihnya. Pusingkan dengan penjelasan saya? Sepusing saya mengerjakan latihan ini. >,<

Tiap latihan di atas dapat diatur tingkat kesulitannya di menu "Target" sesuai kebutuhan latihan kita. Terus? Setelah latihan apa lagi? Aplikasi ini menyediakan menu "My Progress" yang menyajikan dalam bentuk grafik tingkat keberhasilan setelah melakukan latihan-latihan yang ada.


Aplikasi ini sejatinya menjadi alat latih yang ampuh untuk kemampuan mengingat kita, mengurangi tingkat kelupaan kita, walaupun hasilnya tak langsung kita rasakan. Namun jika anda orang yang simpel dan tak mau repot-repot untuk berlatih seperti di atas, cukup pasang pengingat saja di ponsel atau gadget anda. Asli simpel bukan? :)

Jumat, 19 Oktober 2012

Bukan Gooners Sejati

Pertama kenal dengan Arsenal itu zaman SD. Pas kelas 4, dapat rezeki masuk kelas unggulan. Di kelas itu menggabungkan siswa-siswa berprestasi (ciee...) yang berasal dari 5 SD lain yang berbeda dalam satu kecamatan tempat saya berdomisili. Nah, dalam satu kelas itu ternyata hampir semua yang laki-laki gemar sepakbola. Tak jarang kita berbagi cerita tentang pemain bola dan klub favorit. Saling membanggakan dengan alasan-alasan kelas anak SD. 

Sumber gambar di sini
Jika ditanya tentang siapa pemain favorit, saya pun menjawab Tony Adams, yang pada saat itu menjadi kapten Arsenal. Alasannya saya nge-fans? Selain namanya keren dan postur tubuhnya yang besar, saya tak punya alasan lain lagi untuk menjadikannya favorit. Asalnya karena sok  tahu, Tony Adams pun saya kira seorang gelandang, hehehe. Bagaimana dengan klub favorit? Otomatis Arsenal dong. 

Irfal, teman sekelas yang hobi koleksi poster bola, memberikan cuma-cuma poster Dennis Bergkamp yang dia punya begitu tahu saya suka Tony Adams. Nyambung langsung tidak juga sih, tapi tetap saja ada warna Arsenal-nya. :)) Gembira tentunya karena itu poster sepakbola saya yang pertama. Waktu itu poster bola memang menjadi koleksi wajib bagi anak laki-laki yang gemar sepakbola. Sayang, poster itu tak berumur lama, hilang karena adanya perubahan tata ruangan di rumah.

Akses nonton sepakbola waktu itu masih susah di kampung saya, apalagi di rumah yang bisa ditonton cuma te-pe-er-i. Update hasil pertandingan dan berita lainnya tentang Arsenal pun jarang didapatkan selain dari cerita-cerita sekilas teman-teman saja. Hal ini berlangsung sampai saya menginjakkan kaki di bangku kuliah. Jadi fans angin-anginan, jika boleh saya menyebutnya seperti itu. Baru dalam 2 tahun terakhir ini, mulai rajin update tentang The Gunner. 

Kalau ditanya lagi, apa sudah menjadi gooners sejati, maka dengan tegas saya menjawab: TIDAK! Belum berani rasanya jika disebut begitu. Sejauh ini saya hanya fans yang rajin membuka laman Arsenal.com, pembeli jersey versi KW Arsenal, jarang nonton siaran live pertandingan Arsenal, pengunduh wallpaper gratis berbau arsenal, dan gemar pasang stiker arsenal di motor dan cermin kamar. Saya bukan gooners yang rajin ikutan gathering atau nonton bareng, bukan pula fans yang terdaftar sebagai member AIS (Arsenal Indonesia Supporter), bahkan pengetahuan tentang sejarah Arsenal sangat dangkal.

Well, tidak menjadi gooners sejati bukanlah masalah yang serius. Toh, saya bukan fans yang dengan mudah selingkuh ke klub lain di saat Arsenal tengah krisis gelar. Katanya banyak kasus seseorang yang dulunya fans sama klub A tapi ketika klub M atau C yang juara liga maka dengan mudah ia berpaling cinta ke klub-klub tadi. Naudzubillah!

Rabu, 17 Oktober 2012

Kemandirian Pangan dan Fenomena Konversi Lahan Pertanian


sumber gambar di sini

Kemarin, Selasa, 16 Oktober 2012, kembali kita memperingati Hari Pangan Sedunia dan kali ini sudah yang ke-32 kalinya. Hari Pangan Sedunia di Indonesia sendiri akan dilakukan perhelatan/ peringatannya mulai besok tanggal 18 s.d 22 Oktober 2012 di Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Tema yang diangkat adalah "Agroindustri Berbasis Kemitraan Petani menuju Kemandirian Pangan". 

Bagus ya kalimat temanya? Tapi apa mudah mewujudkannya? Terutama untuk frasa Kemandirian Pangan

Menyebut frasa tersebut maka terlintas di benak saya beberapa hal. Produksi pangan yang melimpah, tidak ada lagi impor beras, masyarakat kita sejahtera, dan tentunya harga beras murah. Oke, mungkin harga beras sudah terjangkau adanya untuk sebagian besar masyarakat Indonesia tapi bagaimana dengan kenyataan angka impor beras yang dari tahun ke tahun terus meningkat. Di bawah ini adalah tabel yang menyajikan Impor Barang Modal dan Beberapa Komoditi tahun 2008 - 2011:

sumber: www.bps.go.id

Coba lihat angka impor komoditi beras, yang meski pada tahun 2009 (250,5 ribu ton) mengalami penurunan jika dibandingkan tahun 2008 (289,7 ribu ton) tapi mengalami peningkatan angka yang bisa dibilang fantastis di tahun 2011 yaitu 2,750 juta ton. Mencengangkan bukan? Angka gila ini tentunya menjadi PR besar bagi pemerintah kita. Penyelesaiannya pun terhalang oleh berbagai masalah. Salah satu masalah penting diantaranya adalah lahan pertanian yang makin terbatas.

Konversi Lahan Pertanian
Secara sederhana kita bisa merumuskan bahwa pertambahan jumlah penduduk searah dengan peningkatan jumlah konsumsi penduduk itu sendiri. Lantas bagaimana jika pada lahan pertanian dengan luasan yang tetap, terjadi seperti hal tadi? Tentunya membuat kita berpikir keras untuk pemenuhan kebutuhan pangan, apalagi jika lahan pertanian malah justru berkurang. 

Salah satu penyebab utama berkurangnya lahan pertanian adalah konversi lahan pertanian menjadi non pertanian. Zaman kuliah dulu salah satu senior mengangkat tema konversi lahan pertanian di skripsinya. Saya tidak sempat mendalami tapi bisa mengambil beberapa poin penting dari skripsi tersebut. Bahwa banyak alasan yang memaksa petani untuk mengkonversi lahan pertaniannya. Contohnya: pertambahan jumlah anggota keluarga sehingga mereka harus merelakan sebagian lahan pertaniannya diberikan kepada sang anak untuk dibangun rumah. 

Faktor biaya pendidikan anak yang makin hari biayanya makin bertambah memaksa sang kepala keluarga juga menjual tanah sawahnya untuk kepentingan tersebut. Bahkan ada kasus mereka menjual lahannya hanya untuk 'pelicin' agar anaknya diterima di suatu lembaga pendidikan atau menjadi abdi negara. Ada juga petani yang telah kehilangan passion bertani dan memilih untuk berusaha di bidang lain sehingga lebih baik menjual lahan pertaniannya daripada nganggur. Dan dengan itu uang hasil penjualannya dipakai untuk modal usaha. 

Sebenarnya ada beberapa faktor-faktor lainnya tapi melihat alasan-alasan tadi bisa dikatakan bahwa konversi lahan pertanian menjadi fenomena yang mutlak terjadi atau tidak dapat dihindarkan lagi. Apalagi jika melihat secara mikro pada rumah tangga tani yang keadaan ekonominya belum stabil.

***
Apapun yang menjadi tema Hari Pangan Sedunia kali ini harusnya tak membuat pemerintah menganggap enteng fenomena berkurangnya lahan pertanian. Pengendalian konversi lahan pertanian harus mendapat perhatian khusus agar kelak di masa depan kemandirian pangan bisa tercapai. Kalau tidak salah 2014 ya rencananya mau Swasembada Beras? Semoga tercapai, amin!

Kamis, 11 Oktober 2012

Patuh Saat Menikung

Mau belok kiri? Lihat dulu lampu mana yang nyala!

Beberapa jam yang lalu saya melintas di bilangan Jalan Agussalim, Parepare. Berhenti di traffic light perempatan karena lampu merah menyala, tiba-tiba sebuah motor membelok kiri dengan entengnya tanpa peduli tulisan "Belok Kiri Ikuti Isyarat Lampu" yang tertempel di tiang lampu traffic light tadi. "Heh? Bisa-bisanya?", dongkol saya dalam hati.

Kejadian tadi bukan hal yang pertama saya jumpai di beberapa titik traffic light di kota ini. Bisa dibilang pelanggaran seperti itu sudah lumrah terjadi. Bahkan mungkin banyak terjadi di jalan-jalan daerah lain yang di titik traffic light-nya terdapat peringatan seperti itu. Sejauh yang saya jumpai pelakunya pun ternyata tak memandang usia dan jenis kelamin. 

Saya yakin tidak sendiri menjadi sinis ketika di depan mata pelanggaran tadi terjadi di depan mata. Kita yang dengan patuhnya memberhentikan kendaraan ketika lampu merah menyala dan si pelanggar tanpa melihat rasa KEADILAN isesama pengguna jalan menikung kiri semaunya. 

Saya jadi tak mengerti sampai begitu mudahnya beberapa pengendara mengabaikan peringatan berkendara/ lalu lintas. Walaupun bukan peringatan yang keras, tapi alangkah indahnya ketika kita yang pengendara patuh terhadap aturan. Toh, peraturan lalin dibuat juga untuk keselamatan kita. Tak perlu kiranya saya menjelaskan kenapa ada larangan belok kiri tanpa memperhatikan traffic light. Bukan berarti saya tidak tahu, tapi KEDEWASAAN menjadi alasan saya kenapa musti patuh terhadap peringatan seperti itu.

***
Siang pun melewati puncaknya diwarnai dengan makan siang Nasu Palekko super pedas. :))

Kamis, 04 Oktober 2012

Angin Panas dan Bulir Rindu Kita

Di kota ini. Angin berubah panas dalam sepekan terakhir. Dari beberapa orang tua saya didoktrin bahwa fenomena seperti tadi menandakan akan turun hujan, bahwa musim kemarau segera berganti penghujan.

Tapi tak tahu di tempatmu, di seberang sana. Adakah fenomena sama terjadi? Jika ya, adakah bulir-bulir rindu menguap sebagai akibat kenaikan derajat suhu, buru-buru sebelum bulir-bulir hujan turun? Dan ketika itu menguap maka ketakutanku akan berhadapan dengan ancaman. Ancaman berbuah ketakutan kau akan melupakan. Tidak hanya ragaku tapi kenangan-kenangan yang terangkai oleh kesatuan bernama KITA.

Maka resahlah hati.
Hari masih sore dan jarak masih membentangkan kita. 


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...